Potret Raka Nugraha

Saat ini teknologi informasi dan komunikasi telah mengalami kemajuan yang pesat serta sudah menjadi bagian dari kehidupan umat manusia. Ada berbagai cara untuk berkomunikasi dan menyampaikan informasi antar sesama manusia, salah satunya melalui teknologi audio visual seperti video dan film.

Seperti yang terdapat pada buku Kamus Komunikasi (1929), halaman 226, karya Effendy, bahwa media yang bersifat visual dan audio visual untuk menyampaikan pesan kepada sekelompok orang yang berkumpul di suatu tempat. Pada umumnya manusia menonton film hanya sebagai hiburan. Nyatanya, film memiliki fungsi lebih dari itu, mulai dari fungsi edukatif, informatif, persuasif, dan lain sebagainya.

Raka Nugraha, seorang mahasiswa program studi Penerbitan (Jurnalistik), Politeknik Negeri Jakarta yang telah menyukai dunia sinematografi sejak kelas 2 SMA membagikan ceritanya, “Saat itu saya bersama 5 orang teman saya melihat kesempatan di perlombaan Indonesia Short Film Festival (ISFF) yang diadakan oleh SCTV pada tahun 2015. Kami pun membuat film pendek dengan genre thriller yang berjudul Posesif.”

Film pendek pertama yang ia buat pun masuk nominasi 50 besar. Sejak saat itu, Raka semakin tertarik untuk terus membuat karya di bidang audio visual. “Saya tertarik membuat sebuah cerita dengan berbagai sudut pandang, melihat pendalaman karakter tokoh, serta teknik pengambilan gambar yang baik dan bagus.”

Ia mulai memperkaya pengetahuan dalam dunia perfilman dan sinematografi sedikit demi sedikit secara otodidak. Ia juga bersemangat mengasah kemampuannya dengan mengikuti festival, lomba, dan kegiatan perfilman.

“Saya suka menonton film yang menang atau menjadi nominasi dalam ajang Oscar untuk mempelajari mengapa sebuah film dapat memenangkan penghargaan film Amerika tersebut dan mengapa sebuah film dikatakan kurang bagus. Selain itu, saya juga mempelajari hal-hal yang harus dilakukan ketika membuat film hingga bagaimana film dapat diterima dan disukai oleh publik secara luas.” Tuturnya.

Raka menjelaskan bahwa inspirasi dalam membuat film dapat datang darimana saja. “Biasanya sering muncul ide ketika menonton film, membaca buku, ataupun mendengarkan musik. Setelah ada ide, entah mengapa secara otomatis adegan per adegan main di otak saya. Lalu, pikiran saya mengatakan bahwa ide tersebut harus divisualisasikan dan orang banyak harus mendapat sebuah gambaran dari sini.”

Menurutnya, hal terpenting adalah saat proses eksekusi film. Perlu adanya kesiapan alat-alat pendukung, mental seluruh kru dan pemain yang terlibat dalam kegiatan. Selanjutnya, potongan-potongan gambar harus diambil dengan sangat teliti dan detail sehingga tidak terdapat jump shoot scene seperti perubahan pakaian pemain. Scene juga menentukan hasil film pada akhirnya, untuk itu harus memperhatikan urutannya. Semua dilakukan se-profesional mungkin

Video yang telah ia buat antara lain film pendek bergenre thriller dengan judul Posesif (nominasi 50 besar ISFF SCTV, 2015) bersama Arthocalypse Production, film pendek Jenuh (juara 1 lomba antar kampus Infocus Competition, 2018) bersama Keeta Production, vlog Haji Jaman Now (juara favorite berdasarkan likes dan viewers terbanyak di youtube yang diadakan oleh BPKH RI, 2019) bersama Lengkara Production, vlog Wajah Baru DKI Jakarta (juara 2 lomba yang diadakan oleh Pemprov DKI Jakarta, 2019), dan video profile SMP Mahad Rahmaniyah, Cilodong bersama Keeta Production.

Tokoh yang menjadi inspirasinya dalam dunia perfilman ialah Joko Anwar, “saya sangat termotivasi dengan ucapan beliau mengenai bagaimana cara kita dapat membuat film yang keren dengan budget yang sedikit. Memang pada dasarnya ketika ingin membuat film tuh gak perlu mikir banyak, laksanakan aja dulu. Kalau kita memang kreatif dalam mengeksekusi sebuah film, semua akan berjalan sesuai rencana.”

Tujuan ia sederhana, ingin menyampaikan secara tepat isi dan pesan moral yang divisualisasikan dalam film tersebut, yang tentunya dikemas dengan sinematografi serta scene yang cinematic sehingga menarik untuk dinikmati. Sedangkan mimpi mulianya ialah menghasilkan sebuah karya agar film lokal Indonesia dapat dihargai, dipandang, dan dihormati oleh bangsanya sendiri.