![]() |
| Potret Aini memakai kawat gigi |
Kawat
gigi (bracket) merupakan sebuah teknologi
bidang kedokteran gigi untuk membantu memperbaiki susunan gigi yang tidak
teratur, atau dalam istilah kedokteran disebut maloklusi. Seperti yang terdapat
pada buku Serba-Serbi Kesehatan Gigi dan Mulut, halaman 155,
karya Ardyan Gilang, pada umumnya maloklusi terjadi akibat faktor bawaan,
antara lain gigi berjejal, ruang atau celah antar gigi, kelebihan atau
kekurangan gigi, gigitan yang tidak seimbang, salah satu rahang yang tumbuh
tidak sejajar, serta kelainan pada rahang dan wajah.
Maloklusi
juga dapat ditimbulkan oleh kebiasaan buruk atau faktor lain, seperti kebiasaan
menghisap jari tangan, kondisi pasca kecelakaan yang melibatkan bagian wajah,
kehilangan gigi terlalu dini, dan banyak faktor lainnya. Pada situs alodokter juga dikatakan bahwa gigi yang rapih memiliki
pengaruh dalam membuat cara bicara lebih jelas dan bisa mengunyah atau
menggigit makanan lebih baik.
Aini, salah seorang pengguna kawat gigi (bracket), membagikan ceritanya, “awal pakai kawat gigi itu karena gigi tengahku renggang, rasanya gak pede kalau difoto jadi ada ruang yang bolong gitu. Akhirnya memutuskan untuk pakai kawat gigi, fungsinya di aku itu memang biar rapat bukan sekedar gaya seperti yang orang bilang.”
Aini, salah seorang pengguna kawat gigi (bracket), membagikan ceritanya, “awal pakai kawat gigi itu karena gigi tengahku renggang, rasanya gak pede kalau difoto jadi ada ruang yang bolong gitu. Akhirnya memutuskan untuk pakai kawat gigi, fungsinya di aku itu memang biar rapat bukan sekedar gaya seperti yang orang bilang.”
Seiring
dengan perkembangan zaman, penggunaan kawat gigi atau yang dikenal dengan
behel semakin meningkat. Selain penggunaan untuk kesehatan gigi dan
mulut, kawat gigi juga menjadi trend bagi masyarakat
akhir-akhir ini untuk memperbaiki penampilan dan dianggap dapat meningkatkan
kepercayaan diri.
“Semenjak
aku pakai kawat gigi, kepercayaan diriku untuk foto dan senyum lebih tinggi
karna gigi aku sudah rapat. Walaupun tersiksa kalau udah jadwal ganti karet, terasa nyeri di gigi. Aku
senang, setelah 2 tahun pemakaian, dokter sudah membolehkan aku melepas kawat
gigku, tapi tetap harus pakai retainer yang
fungsinya menjaga gigi agar tidak kembali ke kondisi awal.” tutur Aini.
![]() |
| Potret Drg. Rani Setyawati, Sp. Ort |
Drg. Rani Setyawati, Sp. Ort yang
kini melakukan praktik di Klinik Gigi dan Mulut FKG UI Salemba, menjelaskan hal
ini, “Pada dasarnya kawat gigi memiliki 2 fungsi, fungsional dan estetika.
Fungsional untuk mengembalikan fungsi sistem stomatognatik yang tidak maksimal
pada tulang rahang, otot, sendi, susunan gigi, beserta jaringannya Sedangkan
estetika untuk memperbaiki bentuk wajah, penampilan, membuat senyum lebih indah
yang tentu memiliki dampak emosional meningkatkan kepercayaan diri.”
Ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian lebih sebelum memutuskan untuk memakai kawat gigi seperti memilih dokter spesialis orthodonti yang kredibel, melakukan rontgen guna mendeteksi masalah pada gigi, kesiapan diri serta mental menahan rasa sakit yang ditimbulkan dari penggunaan kawat gigi, dan ketersediaan waktu melakukan kontrol gigi secara rutin ke dokter.
Tulisan ini telah dimuat pada laman https://www.wartalika.id/news/kesehatan/2019/06/25/kawat-gigi-tingkatkan-kepercayaan-diri/



4 Komentar
ternyata kawat gigi gak cuma untuk gigi gak rapih aja ya.. terimakasih infonya jadi lebih paham..
BalasHapusIya dong, ada beberapa masalah gigi lain selain gigi berantakan yang bisa diselesaikan dengan kawat gigi.
Hapusdulu aku juga pengen pake kawat gigi karena liat orang2 pake kawat gigi cantik wkwkk
BalasHapusWah begitu ya, sebaiknya dikonsultasikan dulu yah sebelum pakai behel
Hapus